Di dunia kerja yang semakin kompetitif, sekadar memiliki pengalaman kerja sering kali tidak lagi cukup. Saat ini banyak perusahaan atau organisasi yang mulai mencari bukti yang lebih objektif mengenai kompetensi seseorang, salah satunya melalui sertifikasi profesi. Sertifikasi profesi memberikan dampak yang besar dan menjadi added value bagi individu, bahkan bagi organisasi yang menaungi individu tersebut.
Di banyak organisasi atau perusahaan, asesmen kompetensi sering kali dipandang sebagai momen yang menakutkan. Bagi sebagian karyawan, asesmen terasa seperti sebuah "ujian" yang menentukan apakah mereka dianggap cukup baik atau tidak oleh manajemen. Pertanyaan ini penting sekali untuk dijawab, karena pada dasarnya asesmen kompetensi memiliki tujuan yang jauh lebih membangun daripada sekadar melabeli karyawan "baik", "cukup", atau "kurang".
Ketika target tidak tercapai atau performa tim menurun, respons refleks yang sering muncul adalah mencari siapa yang salah. Individu dianggap kurang kompeten atau memiliki masalah motivasi sehingga kurang bekerja keras. Namun, benarkah setiap masalah kinerja selalu bersumber pada individu?